9 Kalimat yang Sering Orangtua Ucapkan ini Sebenarnya Berbahaya Bagi Anak

9 Kalimat yang Sering Orangtua Ucapkan ini Sebenarnya Berbahaya Bagi Anak!

 

Sebagai orangtua, tentu menginginkan anak dengan tumbuh kembang optimal dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk anak. Tapi tahukah Ayah/Bunda, Mami/Papi, bahwa sebenarnya 9 kalimat di bawah ini mungkin sering didengar atau diucapkan, namun ternyata tidak berdampak baik untuk anak – anak!

  1.  “Pintar” Penelitian mengungkapkan bahwa setiap anak berhasil melakukan atau menguasai suatu keterampilan, orangtua yang sering mengucapkan kata “pintar” atau “kamu hebat!” sebenarnya hanya akan membuat anak ketergantungan dengan ucapan itu. Kata – kata tersebut sebenarnya sama sekali tidak memotivasi. Bukan berarti orang tua tidak boleh memuji anak, tapi gunakan lah pujian tersebut saat benar – benar diperlukan atau ucapkan pujian secara spesifik, seperti “wah. sudah selesai. Mami senang kamu tidak menyerah”.

  2.  “Coba Terus Sampai Jadi yang Terbaik”Anak yang dibebankan kalimat seperti di atas akan merasa tertekan untuk selalu menang atau unggul dalam melakukan apapun. Selain itu, kata – kata sperti “Ayo coba terus sampai kamu bisa” bagi anak adalah pernyataan orangtua yang menyiratkan anak tidak bekerja keras. Banyak anak – anak yang akhrirnya menyalahkan dan menganggap dirinya sendiri bodoh karena sudah mencoba berkali – kali namun tetap dianggap gagal dan tak berhasil oleh orangtua. Sebaiknya yang menjadi perhatian penting orangtua adalah mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan diri dan merasa bangga atas kemajuan yang berhasil diraihnya.

  3.  “Kau Baik – Baik Saja”Saat anak terjatuh dan berdarah, orangtua pasti akan berusaha meyakinkan anak bahwa ia baik – baik saja. Namun, anak menangis justru karena ia tidak baik – baik saja. Pernyataan orangtua yang mengatakan bahwa anak baik – baik saja justru akan memperburuk keadaan. Tugas orangtua adalah membantu anak memahami dan menangani emosinya, bukan untuk mengurangi rasa sakitnya. 

  4.  “Ayo Cepat!”Anak memang biasanya belum sempurna dalam melakukan sesuatu. Ketika anak lama menghabiskan sarapannya, atau ketika lama mengikat sepatu, mengatakan “Ayo cepat” akan membuat anak tertekan dan stress. Orangtua bisa mengubah kalimat tersebut menjadi “ayo kita berlomba memakai sepatu”.

  5.  “Ibu/Ayah Tidak Mampu Membelinya”Anak biasanya memang memiliki banyak keinginan. Jika anak menginginkan sesuatu dan memintanya kepada orangtua, kalimat ini bisa digunakan untuk menjelaskan kepada anak “Kita tidak bisa membelinya sekarang karena kita sedang menabubng untuk membeli hal – hal yang lebih penting”. Jika anak masih belum juga mengerti, orangtua bisa menjelaskan lebih lanjut secara perlahan mengenai kondisi keuangan keluarga.

  6.  “Jangan Bicara Dengan Orang Asing”Konsep kalimat di atas sangat sulit dipahami oleh anak – anak. Anak akan sulit mengidentifikasi siapa dan seperti apa orang asing itu. Jika bertemu orang tak dikenal yang bersikap baik padanya, anak bisa saja menganggap orang tak dikenal tersebut bukanlah orang asing. Orangtua bisa memberikan peringatan dengan bermain skenario dengan anak (seperti “Jika kamu bertemu Bapak – Bapak tak dikenal yang menawarkan permen apa yang akan kamu lakukan?”). Karena sebagian besar kasus penculikan anak melibatkan orang terdekat, ada baiknya mengatakan pada anak “Jika ada yang membuat kamu marah, sedih, bingung, atau takut, segera beritahu Mamih/Papih ya”.  

  7.  “Hati – Hati”Maksud orangtua mengatakan “hati – hati” tentu karena tak ingin sang anak mengalami hal – hal yang tidak diinginkan. Namun, saat anak sedang melakukan sesuatu dan disela dengan kata “hati – hati”, justru akan menimbulkan kemungkinan untuk terjadi sesuatu. Penyebabnya karena kata – kata tersebut mengalihkan perhatiannya dari apa yang sedang ia lakukan, anak kehilangan fokus. 

  8. “Tidak ada Es Krim (Atau Apa Saja) Kalau Makananmu Tidak Habis)”Ungkapan seperti ini akan meningkatkan kecemasan anak dan membuat anak semakin tidak fokus menyelesaikan apa yang ia lakukan. Ada baiknya mengubah kata – kata menjadi lebih baik seperti “Ayo fokus habiskan makananmu, setelah itu kamu bisa makan es krim”. Perubahan kata – kata menjadi lebih halus akan memiliki dampak yang lebih positif bagi anak.

  9.  “Biarkan Ibu/Ayah Saja yang Selesaikan”Ketika anak sedang sibuk dan berjuang keras menyelesaikan sesuatu, jangan terlalu cepat memberi bantuan. Hal ini akan melemahkan kemandirian anak, karena anak akan terbiasa untuk mencari bantuan orang lain untuk membantunya. Sebaliknya, anak justru diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dan memulai pertanyaan.

Nah, Mamih/Papih, Ayah/Bunda, 9 kalimat di atas rasanya sering sekali kita dengar di kehidupan sehari – hari. Namun, ternyata kalimat – kalimat di atas menyimpan dampak yang tak terduga bagi anak – anak yaaaa. Yuk lebih berhati –  hati dalam berkata – kata karena dampaknya sebesar itu loh bagi anak 🙂

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Phone: 0857 7055 8775
WA: 0857 7055 8775
Jl. Gempol Wetan No. 8,
Bandung, 40115
Style switcher RESET
Body styles
Color settings
Link color
Menu color
User color
Background pattern
Background image